Ceritaku hari ini, Pada Proses pembuatan SIM di Jepara,
Oke guys, kali ini saya akan menulis tentang pengalaman
pembuatan SIM di Jepara
Berikut ini cara pembuatan sim tanpa lewat Calo, semoga bermanfaat
1. PERMOHONAN SIM BARU :
A.
SIM C : Stopmap warna Biru
B.
SIM -A/umum : Stopmap warna kuning
C.
SIM-B/umum : Stopmap warna merah
2. Lampiran
a. Fc
KTP Rangkap : 6 lembar
b.
Pemeriksaan kesehatan (RIKKES) dari dokter
c. Pas
foto berwarna ukuran 3 x 4 2 lembar
d.
Sertifikat mengemudi dari LPK (bagi yang sudah belajar mengemudi di LPK)
3. Mengikuti Ujian
a.
Ujian teori sistem avis untuk semua golongan SIM (di kantor SIM)
b.
Ujian Praktek 1 (di halaman polres Jepara)
c.
Ujian praktek 2 (Di Jalan umum)
d. Bagi
permohonan SIM A, B, dan umum ujian praktek 1 dan 2 dijalan pahlawan (halaman makam pahlawan
e. Bagi
yang tidak lulus ujian bisa mengikuti Ujian ulang
4. Setelah semua ujian dinyatakan lulus, pemohon membayar
PNPB di loket BRI/ATM BRI (SLIP/tanda bukti pembayaran dilampirkan)
5. Mengisi formulir permohonan SIM
6. Mendaftar di loket pendaftaran SIM
7. Melaksanakan foto sim di ruang foto kantor SIM
Oke guys, itu dia tata cara pembuatan SIM, secara benar,
namun,,, saya garis bawahi, tidak semudah itu, apalagi ujian praktek di dalam
polres Jepara, nah langsung saja keceritaku hari ini yaa
Pukul 09.00 saya
bersama ayah saya menuju polres Jepara, sampai di sana sekitar jam 10.00
dikarenakan ban motor yang kami kendarai sedikit bermasalah di jalan, sebelum
masuk gerbang utama, saya sempat kaget ternyata di lingkungan kepolisian yang
notabenenya aparat keamanan dan penegak hukumbanyak sekali praktek calo calo,
“wihh... berasa di terminal terboyo saja”, banyak sekali entah itu bapak bapak
atau ibuk ibuk yang menawarkan jasa pembuatan SIM, dengan mudah dn cepat,
karena memang pada kenyataannya membuat SIM apalagi ujian prakteknya itu
susahnya minta ampun, pasti teman teman tahu sendiri lah,,, kita harus
mengendari sepeda motor dengan jalan zig zag dan jalanan yang memutar 180
derajat tanpa boleh nyandarin kaki,, karena menurut pengalaman teman,, yaitu
adeknya mas Kamal (yang sempat saya introgasi gitu pas di polresnya) itu memang
susah sekali, adeknya tuh sudah ikut ujian 3 kali tetapi ga lulus lulus juga,
alhasil dia ikut deh pembuatan sim lewat jalan belakang atau calo2 gitu,,
ahaha, #gubrak deh
Oke, dan akhirnya saya pun tertarik degan membuat sim lewat
jalur belakang,, penasaran juga, seperi apa prakteknya,,, dan kesempatan juga
buat nanya nanya kepada mister calonya, apa si sebenernya yang terjadi dan buat
apa uang yang dibayarkan mahal banget, sementara berdasarkan UU No... pembuatan
sim C kan Cuma sebesar 100 ribu rupiah,
Dan akhirnya saya sepakat untuk menggunakan jasa pembuatan
sim, sebut saja calo itu bernama pak A, pertama, saya di ajak ke sebuah fotocopian gitu,
langsung saya di sodori stopmaph warna biru, suruh ngeluarin fotocopy KTP 6
lembar, kemudian bapak itu minta uang 100 ribu, untuk tes kesehatan dan lain
lain bilangnya,, aaawh,, dalam hati "aku bener bener ga ikhlas nih, untuk tes
kesehatan saja butuh 100 ribu, padahal tes kesehatan cukup dengan membayar 15
ribu, bahkan kalau di puskesmas gratis," "OMG,,, aku merasa diperas”, okelah,
saya kasih bapaknya, dan tak lama kemudian Pak A datang dan membawa selembar
kertas surat kesehatan yang menerangkan diriku,,, “bulsit banget nih, apa
apaan, ga pernah ikut tes kesehatan dapat surat yang seperti ini” ini dokternya
kok mau maunya membuat keterangan seperti ini, pikirku, tapi aku tetap diam
saja bagaikan orang bodoh, dan akupun diajak kesuatu LPK (semacam lembaga
Kursus gitu) LPK.nya bernama “ JENGG**A COURSE” ya.. kalau di jepara lembaga
ini termasuk terkenal, untuk pelatihan gitu, dan akupun membayar 215 ribu untuk
proses pembuatan Sertifikat,, aaah.. tidak, ini pemalsuan lagi pikirku, untuk
mendapatkan sertifikat itu, saya harus mengikuti 2 ujian, yaitu ujian praktek
dan ujian teori, pertama saya mengikuti ujian praktek dengan area yang seperti
di kantor polisi, bilangnya si ga boleh sandaran, tetapi saya ya ga bisa, mana
mungkin cewek suruh melewati lintasan seperti itu, dan ga boleh sandaran
kaki,,, oke.. tes pertama sudah terlewati meskipun sebenarnya gagal, tapi
diberhasilkan karena saya sudah bayar tadi, oke, kemudian saya pindah tempat dan
mengikuti ujian teori, nah ini lebih parah lagi, saya suruh ngerjain soal dan
soalnya pun ga ada, kemudian setelah saya mengisi biodata lengkap dibagian
pojok atas, saya tanya sama Pak A, soalnya mana pak, kok saya dikasih selembar
kertas doang, “kemudian, Pak A menyelutuk “udah, ga usah, kemudian bapaknya
menarik kertas saya dan di isi sesuka dia, biasa disebut silang indah, tanpa
merhatiin soal., “OMG.... nih bener bener tidakan ilegalitas dan kampret bener
nih, hal semacam ini dibiari begitu saja tanpa ada pemberontakan dan pergerakan
dari kalangan mahasiswa setempat ataupun apa, singkat cerita sertifikat saya
langsung jadi dan saya pun sempet ngobrol ngobrol sama bapaknya, oke, mulai
menjalankan aksi, seperti ini dialognya
Me: “Pak, kok dilingkungan kepo*****n gitu banyak sekali
calo calo, apa ga ditegur dari pihak kepo*****n?”
Pak A: “Wah mba, ya engga, saya kan sudah kerjasama sama
mereka, jadi ya gak apa apa.. kan kita sama sama enak, mbak dapat sim secara
cepat, saya pun dapat komisi, ya meskipun komisinya engga seberapa”
Me : “enak darimana pak, saya merasa dirugikan orang sim
hargany 100 ribu, eh bayarnya 4 kali
lipat, haha” pikirku dalam hati,
lalu, akupun bertanya
lagi sama bapaknya, “ Tapi kenapa pembuatan sim disini mahal banget pak, tidak
seperti di kota kota lainnya, sebut saja j***a, k***i dan sekitarnya, yang Cuma
bayar setengah dari harga disini, untuk pembuatan sim lewat pintu belakang
(calo)
Pak A : “Naah, itu dia mba, kalau di j***a kan banyak orang
pintar banyak mahasiswa, kemungkinan pihak p****inya ga berani, nentuin harga
yang segitu gedenya. Beda kalau disini tempatnya saja ujung pantai gini, orang
pintar pun ga peduli, hhe” bapak itu
sembari tertawa kecil
Me: #GUBRAK ####%%%,.,.,,.,. “pikirku
berarti kan itu termasuk penyimpangan pak
Pak A: ya emang bisa, nah dari pihak kepol****n kan yang
ditakuti mahasiswa yang idealis idealis gitu, takutnya mereka melaporkan adat pembuatan sim
seperti itu, makanya buat antisipasi mereka selalu mengambil kwitansi yang dari
LPK ini, lihat saja, pasti nanti kwitansi mba, diminta, itu sebenarnya untuk
antisipasi jika ada pihak yang ingin mengkasuskan,
Me: “berarti dari pihak lembaga kursus, aparat kepo*****n,
dan bapak sendiri saling bekerjasama ya, padahal sesuai aturan UU no pasal ini
pembuatan sim C kan pajaknya Cuma 100 ribu doang,, lantas dikemanain uangnya
itu, apa pihak lembaga kursus doang yang dapat keuntungannya? “
Pak A: “tidak mba, semua dapat, mulai dari bawahan sampai
atasan, ini sudah jadi rahasia umum kok mba, kalau orang seperti saya ini ya ga
bisa ngapa ngapain, kalau mba mungkin bisa menyelidiki perkara ini, karena
seorang mahasiswa kan netral, tidak seperti saya yang sudah terikat sama
kerjaan saya”
Me : “kam to the pret... “ pikirku, “iya pak, saya tertarik
dengan ini” kan kasihan yang tidak punya cukup uang untuk membuat sim, karena
harganya yang mahal (yaaa, meskipun ga semahal motor jaman sekarang, whehe)
Pak A: okee, nanti kalau ada apa apa saya bersedia membantu,
ini nomor saya kalau ingin melakukan pergerakan atau pengen tahu lebih lanjut,
Me: &&&&7##3##!!!!!
Pak A : “tapi mba kan juga di untungkan, proses pembuatan
SIM jadi mudah dan tidak memakan waktu, ya... kecuali kalau mba, itu saudara
atau tetangganya ada yang dinas di “kepo*****n, pasti langsung ditandatangani
dan dinyatakan lulus
Me: “ooh, gitu ya pak” (semakin merasa ga paham)
Setelah sertifikat jadi langsung cap cus menuju Kepo*****n,
disana saya mengikuti ujian lagi yaitu teori dan praktek, unuk teorinya sangat
mudah, karena pada proses penjawaban, kami (pembuat sim lewat calo) dibantu
menjawab, “ya bisa dapat 100 kalau seperti ini” pikirku, saya juga sempet
merekam ketika ujian tulis tersebut, saya lulus ujian tulis, kemudian saya
mengikuti ujian praktek (tapi untuk saya ditiadakan) berhubung waktu sudah
mepet, ah, ga kaget lagi kalau seperti ini, dan saya ingat perkataan pak A tadi
ternyata benar, kwitansi saya di minta, dari sekian puluh orang hanya kwitansi
saya yang tidak saya kumpulkan, kemudian namaku di panggil dan kwitansiku
ditanyakan, “aah, bener pernyaataan bapak tadi”, kemudia saya menyelutuk,
“emang buat apa pak, kwitansi dibutuhkan, emang mau diapakan kwitansi
tersebut”, lalu dari pihak kepolisian bilang “pokoknya butuh mba, ini temannnya
pada dikumpulin semua” sambil agak gugup gitu jawabnya, dan sayapun menambahkan
“tapi, saya juga butuh kwitansi tersebut pak,” akhirnya saya eyel eyelan sama
*olisi tersebut, dan sepakatnya saya di fotocopi.in kwitansinya, lalu bapaknya
tanya, emang kwitansi mau buat apa mba, saya bilang saja ini kwitansi untuk
bukti ke orang tua, kalau saya emg mengeluarkan uang segitu,,